Pengabenan Tanpa Bakar Memuliakan Ida Betare Puncak Sinunggal di Desa Tajun Buleleng

Editor: Redaksi | Reportase: Totok Waluyo

Buleleng, TOPIK9| Bicara tentang ngaben, pastinya ada beberapa yang belum mengenal ngaben lebih dalam. Ngaben adalah upacara pembakaran jenazah umat Hindu di Pulau Dewata Bali. Yang tujuannya untuk mempercepat raga sarira (tubuh) kembali ke asalnya yaitu panca maha butha dan bagi atma (nyawa) dapat cepat menuju alam pitra (alam leluhur).

Namun bagaimana dengan pengabenan tanpa bakar, seperti apa yang terlihat pada pengabenan massal di Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Pengabenan tanpa bakar di Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan, Buleleng ini sudah menjadi tradisi secara turun menurun. Hal ini disampaikan Kelian Dadia Ketut Sukawana, Minggu (22/5/2022).

“Pada hari ini tanggal 22 mei 2022, kami mengadakan pengabenan massal, namun tanpa harus melalui proses makar/geseng tapi dengan percikan tirta, proses sampun memargi,” ujar Ketut Sukawana seraya menambahkan upacara ini juga merupakan penghormatan kepada Ida sesuhunan Betara ring Puncak Sinunggal. Pura kayangan jagat yang sangat sakral.

Sementara di tempat yang sama, juga terlihat adanya sesuguhan tari topeng untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan.

Bersama LSM Bli Braya, Dr. Sukawati Lanang Putra Perbawa, Dekan Fakultas Hukum Universitas Mahasaraswati Denpasar ini melakukan ngayah nopeng sebagai rasa bakti kepada betara dan leluhur.

Sebagai seniman, ia menyebut, bagian ngayah nopeng ini sebagai pengajegan (menjaga) adat dan budaya Pulau Bali.

“Namun sebagai masyarakat, Bli Braya dan saya pribadi berkomitmen ngayah nopeng sebagai penguatan adat budaya Bali sendiri. Dan ini benar-benar ngayah, tidak pupaan atau dibayar,” tegasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.