Dimulai 25 Juni Mendatang, Art Xchange Gallery Gelar Pameran “Table Talk: Food, Our Universal Language”

Denpasar, TOPIK9| Art Xchange Gallery akan menggelar pameran tunggal Marisa R Ng, berjudul “Table Talk: Food Our Universal Language” di Kopi Bali House Sanur mulai 25-30 Juni 2022 mendatang. Pameran diinisiasi oleh Marisa R Ng yang merupakan perupa internasional dan berasal dari Malaysia ini, memiliki tujuan untuk membuka dialog tentang warisan, ras, budaya, dan tradisi.

Direktur Art Xchange Gallery Benny Oentoro B.A menjelaskan, Art Xchange Gallery dengan senang hati menyelenggarakan pameran tunggal Marisa R Ng, Table Talk: Food Our Universal Language. Pihaknya mengungkapkan mengenal Marisa sebagai seniman abstrak ekspresionis Malaysia yang memiliki latar belakang budaya campuran dari Tionghoa dan Melayu.

“Dia sangat akrab dengan budaya dan tradisi Melayu dan Cina,” tuturnya.

Benny mengungkapkan belakangan ini dunia sedang kacau dilanda oleh intoleransi akibat rasisme dan agama. Bahkan sebagian besar negara tidak sadar telah membiarkan segregasi rasial antara kelompok yang berbeda berkembang hingga kebebasan dan kesetaraan hilang. Terlebih di seluruh dunia, minoritas baik itu ras, budaya atau agama juga menderita pelecehan dan intoleransi.

“Kita perlu introspeksi diri bahwa dunia ini terdiri dari ras, budaya, dan agama yang berbeda. Hanya ketika kita bersatu, saling menghormati inti dan nilai-nilai lain, kita dapat mulai hidup dalam harmoni,” ungkapnya.

Baginya, Pameran Table Talk: Food Our Universal Language ini relevan untuk ditampilkan di Indonesia, karena masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai ras, suku, budaya dan tradisi. Adapun tantangan yang dihadapi kali ini yakni bagaimana menjaga persatuan di antara ras multikultural yang begitu luas, dengan saling menghormati budaya dan latar belakang yang berbeda.

“Jangan sampai kita melupakan semboyan nasional kita Bhinneka Tunggal Ika yang berarti kesatuan dalam keragaman,” imbuhnya.

Sementara perupa internasional asal Malaysia Marisa R Ng mengatakan, pameran “Table Talk: Food, Our Universal Language” akan menyajikan menu masakan multikultural karyanya bersama Chef Gabriel Pandanbuana dan Head Barista Juan Kenneth Wijaya. Dalam pameran ini, pihaknya hanya menyiapkan 1 meja makan bundar berukuran 2 meter beserta tempat duduk hanya untuk 12 orang semalam. Dimana makanan akan disajikan di salah satu karya seninya, tepat berada di tengah meja bundar tersebut. Meja bundar dijadikan opsi terbaik untuk penyajian hidangan dalam jumlah besar serta dapat dijangkau oleh semua orang. Terlebih, meja makan masyarakat Asia dominan berbentuk bulat (bundar).

Disinggung terkait penggunaan meja bundar, Marisa menyebutkan ada 2 alasan yang menguatkan penggunaan meja bundar dalam pamerannya kali ini. Pertama, meja bundar dinilai mampu mendekatkan satu sama yang lainnya dan setiap orang dapat berbicara hingga tatap muka dengan mudah di sekitar meja tanpa saling berteriak. Kedua, “bulat” dalam bahasa Cina artinya 圆 (yuán) dan kata Cina untuk “reuni” adalah 团圆 (tuányuán). Untuk itu, bentuk bulat melambangkan “berkumpulnya keluarga” dalam komunitas Tionghoa. Hal ini senada dengan kata “kesatuan” dalam bahasa Cina memiliki pengucapan yang mirip dengan kata “bulat” atau “lingkaran”.

Lebih lanjut dikatakannya, sebuah keluarga akan tetap bersama, apabila hingga saat ini masih tetap melakukan kegiatan makan bersama. Terutama, makan di meja bundar akan menyatukan sekaligus mendekatkan keluarga. Pihaknya juga percaya bahwa makanan adalah bahasa universal, sedangkan meja bundar adalah suatu keharusan yang harus dimiliki keluarga.

“Meja bundar juga menjadi opsi untuk keluarga berkumpul, berbagi makanan, bercerita, dan menciptakan kenangan indah yang akan bertahan seumur hidup. Meja bundar akan menyatukan keluarga serta membawa orang lebih dekat. Berbagi makanan bersama tanpa memandang ras dan status di meja bundar tetap menjadi simbol sejati toleransi, kepedulian, cinta dan rasa hormat. Tidak hanya untuk keluarga kita, tetapi juga untuk komunitas kita, bangsa kita dan dunia,” ujar Marisa di Art Xchange di Kopi Bali House Sanur, Senin (20/6/2022).

Menurut Marisa, pameran ini juga akan bercerita tentang bagaimana kehidupan dan generasi mendatang. Melalui kesatuan meja bundar yang relevan, praktis dan simbolis dalam budaya di seluruh dunia. Bahkan, hampir semua hal bisa diselesaikan di meja bundar. Meja bundar juga menjadi tempat perayaan berlangsungnya sumpah pernikahan yang diumumkan di antara pasangan yang saling mencintai. Tidak hanya itu, meja bundar juga tempat berbagi duka bagi almarhum maupun negosiasi antara mitra bisnis dan jamuan negara untuk menyambut presiden dari negara lain. Tentunya, semua bisa terjadi di meja bundar yang sama.

“Ayah saya orang Cina. Ibu orang Melayu. Saya dibesarkan oleh pihak Tionghoa dalam komunitas Melayu. Tetangga saya mayoritas Melayu. Saya bangga bahwa saya dibesarkan di Malaysia, negara multi-budaya. Kami selalu mengadakan makan malam keluarga di meja bundar di rumah. Kita semua memiliki meja seperti ini di rumah. Itu adalah simbol persatuan kita dengan keluarga kita, ini adalah tempat di mana jutaan cerita unik telah dibagikan serta mewakili perasaan dan keterikatan kita dengan keluarga dan kita,” tuturnya.

Lebih lanjut, Marisa berharap pengalaman interaksi seni sembari bersantap ini nantinya dapat menghubungkan orang-orang dalam mengeksplorasi dan berbagi serta mempelajari kebudayaan serta makanan adalah suatu cara dalam menyatukan negara dan budaya yang berbeda-beda. (*/02)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.