TOPIK9.COM, JAKARTA — Kebijakan pemerintah yang meluncurkan program B50 berbahan baku minyak sawit (CPO) dinilai menjadi bukti nyata komoditas sawit nasional memiliki peran strategis dalam mendukung pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (EBT), sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. Implementasi B50 juga dipandang merupakan tonggak penting dalam hilirisasi industri sawit nasional yang selama ini terus didorong oleh berbagai pemangku kepentingan.
Pandangan itu diutarakan Anggota Komisi IV DPR RI Endang Setyawati menilai dalam Rapat Kerja dengan Menteri Pertanian dan Kepala Badan Pangan Nasional, di Senayan, Jakarta, Rabu (15/7/2026). “Kami dukung penuh implementasi mandatory B50 yang ditopang daya dukung penggunaan minyak sawit CPO, namun Kementan juga harus memperhatikan ketersediaan CPO nasional,” tuturnya.
Selain itu, implementasi B50 diproyeksikan meningkatkan nilai tambah crude palm oil (CPO) dari Rp 20,92 triliun menjadi sekitar Rp 23,49 triliun. Ia melihat, implementasi B50 diperkirakan meningkatkan konsumsi domestik CPO sekitar 1-2 juta ton per tahun, sehingga memperketat pasokan ekspor dan menjaga harga CPO tetap tinggi.
Proyeksi kebutuhan CPO ke depan, kata dia, juga harus diperhatikan. Infrastruktur kesiapannya juga menjadi hal penting dengan memperhatikan potensi distribusi nasional. Dilansir dari dpr.go,id, politisi Partai Gerindra ini berkata, “Antisipasi agar penggunaan CPO dalam B50 ini juga harus dipastikan tidak mempengaruhi kenaikan harga pangan nasional seperti minyak goreng.” (bur)



