BisnisEkbis

Harga Minyak Dunia Anjlok, Harga Pertamax Berpeluang Turun

TOPIK9.COM, JAKARTA– Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax dan Dex Series, menyusul merosotnya harga minyak mentah dunia dalam beberapa hari terakhir.

Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia mengatakan harga BBM nonsubsidi pada dasarnya mengikuti mekanisme pasar dan perkembangan harga minyak mentah internasional. Karena itu, pelemahan harga minyak global akan menjadi dasar evaluasi bagi badan usaha dalam menentukan harga jual BBM di dalam negeri.

“Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non subsidi juga akan turun. Sebaliknya, ketika harga minyak dunia naik, harga BBM non subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomian,” ujar Dwi dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Pernyataan tersebut muncul setelah harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam lebih dari 5 persen pada perdagangan sebelumnya. Minyak mentah Brent tercatat turun 5,1 persen menjadi US$ 78,96 per barel, level terendah sejak awal Maret 2026. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot 5,8 persen ke posisi US$ 76,05 per barel.

Penurunan harga minyak terjadi setelah meredanya kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik global yang sebelumnya mendorong lonjakan harga energi sejak memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran pada akhir Februari lalu.

Menurut Dwi, mekanisme penetapan harga BBM nonsubsidi tidak hanya berlaku untuk Pertamax, tetapi juga seluruh produk bahan bakar komersial yang dipasarkan oleh Pertamina maupun badan usaha swasta.

“BBM non subsidi memang mengikuti mekanisme harga pasar. Minyak mentah dunia berapa harganya, apakah naik atau turun, maka produk BBM non subsidi harus mengikuti perkembangan tersebut,” kata Dwi dikutip Antara.

Ia menegaskan bahwa proses penyesuaian harga tetap mengacu pada ketentuan yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 245 Tahun 2022 mengenai formula harga jual eceran BBM umum.

Dengan demikian, ketika biaya pengadaan minyak mentah dan produk BBM menurun, badan usaha memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian harga di tingkat konsumen.

Meski membuka peluang penurunan harga BBM nonsubsidi, pemerintah memastikan kebijakan terhadap BBM bersubsidi tidak berubah. Harga Pertalite dan Solar subsidi akan tetap dipertahankan guna menjaga daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

“Untuk BBM subsidi dipastikan tidak akan mengalami kenaikan. Ini merupakan kebijakan pemerintah untuk melindungi masyarakat rentan dan menjaga daya beli mereka,” ujar Dwi.

Menurutnya, stabilitas harga BBM subsidi menjadi salah satu instrumen penting pemerintah dalam meredam dampak gejolak ekonomi global terhadap kehidupan masyarakat.

“Sesulit apa pun kondisi geopolitik di luar negeri, pemerintah tetap berupaya menjaga harga BBM subsidi agar tidak membebani masyarakat kecil,” katanya.

Dengan tren penurunan harga minyak mentah dunia saat ini, pelaku pasar dan konsumen kini menantikan langkah badan usaha energi dalam menyesuaikan harga BBM nonsubsidi pada periode berikutnya.

Jangan Terburu-buru

Secara terpisah, Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah menyebut turunnya harga minyak dunia ke bawah harga US$ 80 per barel menjadi kabar positif bagi perekonomian nasional. Namun, dia meminta pemerintah tidak terburu-buru melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi.

“Menurut hemat saya, mungkin bulan depan baru akan bisa dihitung (penyesuaian harga BBM nonsubsidi),” ujar Said dalam seperti dikutip dari wawancara Metro TV, Kamis, 18 Juni 2026.

Menurut Said, biasanya pemerintah dan DPR menggunakan rata-rata pergerakan harga minyak dalam periode tiga bulan sebagai dasar evaluasi sebelum memutuskan melakukan penyesuaian harga. Hal ini dinilai penting untuk menjaga stabilitas harga dan memberikan kepastian bagi masyarakat maupun dunia usaha.

“Kalau hari ini harga minyak dunia turun, kita turunkan (harga BBM nonsubsidi), besok (harga minyak dunia) naik lagi, naik lagi juga itu kan. Akan sangat merepotkan sekali bagi para pelaku usaha,” kata Said. (ian)

Artikel yang berhubungan

Back to top button