
TOPIK9.COM, JAKARTA–Meredanya konflik di Timur Tengah dan mulai pulihnya jalur perdagangan strategis global dinilai dapat membuka berbagai peluang ekonomi baru bagi Indonesia.
Tidak hanya di sektor pangan dan perdagangan, peluang juga terbuka pada industri halal, keuangan syariah, mineral kritis, hingga investasi.
CEO & Managing Director DinarStandard, Rafiuddin Shikoh, mengatakan krisis geopolitik yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir telah memberikan pelajaran penting mengenai pentingnya ketahanan rantai pasok dan diversifikasi perdagangan bagi negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
Menurut dia, meskipun gencatan senjata dan pembukaan kembali jalur perdagangan seperti Selat Hormuz mulai memberikan kepastian, dunia akan memasuki fase “normal baru” yang menghadirkan tantangan sekaligus peluang ekonomi baru.
“Krisis juga menciptakan peluang. Pertanyaannya adalah bagaimana negara-negara OKI, termasuk Indonesia, dapat mengambil langkah strategis bukan hanya untuk merespons krisis, tetapi juga memanfaatkan peluang yang muncul setelahnya,” kata Rafiuddin dalam Seminar Islamic Economic Outlook 2026 pada 17 Juni 2026 yang dikutip, Sabtu (20/6/2026).
Rafiuddin menjelaskan, Indonesia memiliki posisi strategis karena merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia sekaligus salah satu ekonomi terbesar di antara 57 negara anggota OKI yang secara keseluruhan memiliki produk domestik bruto (PDB) sekitar US$9,2 triliun.
Salah satu peluang terbesar pascakonflik berada pada sektor pangan. Menurut DinarStandard, negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC) atau Dewan Kerja Sama Teluk diperkirakan akan semakin memperkuat strategi ketahanan pangan mereka setelah terganggunya rantai pasok akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan ekspor beras, minyak sawit, produk makanan halal, serta berbagai komoditas pertanian lainnya ke negara-negara Teluk.
“Penguatan koridor perdagangan Indonesia-GCC menjadi salah satu peluang paling penting dalam satu hingga dua tahun ke depan, terutama untuk sektor pangan dan produk halal,” ujarnya.
Peluang tersebut semakin besar mengingat masih terdapat 28 negara anggota OKI yang berstatus net food importer atau bergantung pada impor pangan untuk memenuhi kebutuhan domestik mereka.
Selain pangan, Indonesia juga dinilai memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai pusat ekonomi halal dunia. Menurut Rafiuddin, perubahan lanskap perdagangan global akan mendorong penguatan kerja sama ekonomi antarnegara muslim, termasuk dalam perdagangan produk halal.
Indonesia dapat memanfaatkan momentum tersebut melalui percepatan sertifikasi halal, pengembangan industri makanan dan minuman halal, kosmetik halal, farmasi halal, serta modest fashion.
“Indonesia memiliki peluang menjadi halal hub bagi negara-negara OKI karena memiliki pasar domestik yang besar, basis industri yang kuat, dan sistem sertifikasi halal yang terus berkembang,” katanya.
Perubahan Perilaku Konsumen
Rafiuddin juga menyoroti perubahan perilaku konsumen muslim global yang semakin mencari alternatif produk dari negara-negara muslim. Fenomena boikot terhadap sejumlah merek Barat di berbagai negara, menurutnya, telah menciptakan ruang baru bagi produk-produk halal dan produk konsumsi dari negara anggota OKI.
Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang bagi produsen Indonesia untuk memperluas pasar ekspor makanan, minuman, kosmetik, hingga produk gaya hidup halal.
Di sektor industri, Indonesia juga dipandang memiliki keunggulan strategis melalui cadangan nikel yang besar. Menurut Rafiuddin, meningkatnya kebutuhan global terhadap baterai kendaraan listrik dan energi terbarukan membuka peluang bagi Indonesia untuk menjadi pemain utama dalam rantai pasok mineral kritis dunia.
Ia menyebut pembangunan koridor mineral kritis antarnegara OKI dapat menjadi salah satu agenda strategis jangka panjang yang menguntungkan Indonesia sebagai produsen dan pengolah nikel.
“Indonesia memiliki posisi yang sangat kuat dalam industri nikel dan baterai. Ini merupakan peluang besar untuk memperkuat peran Indonesia dalam rantai pasok global,” ujarnya.
Peluang lainnya berada pada sektor keuangan syariah. Rafiuddin menilai negara-negara OKI akan semakin mendorong penggunaan instrumen keuangan syariah untuk mendukung pembangunan dan perdagangan setelah periode ketidakpastian global.
Dalam konteks tersebut, Indonesia dapat memperluas perannya melalui penerbitan sukuk, pengembangan sistem pembayaran lintas negara, serta peningkatan integrasi keuangan syariah dengan negara-negara Timur Tengah.
Bahkan dalam jangka panjang, Jakarta dinilai memiliki peluang berkembang menjadi salah satu pusat keuangan syariah dunia bersama Kuala Lumpur apabila mampu memanfaatkan momentum penguatan kerja sama ekonomi antarnegara muslim.
Selain itu, Indonesia juga berpotensi menjadi penghubung perdagangan antara ASEAN dan negara-negara OKI. DinarStandard melihat adanya peluang pembentukan koridor perdagangan baru yang menghubungkan kawasan Asia Tenggara dengan Timur Tengah sebagai respons terhadap perubahan peta perdagangan global pascakonflik.
Menurut Rafiuddin, seluruh peluang tersebut menunjukkan bahwa krisis geopolitik tidak hanya membawa risiko, tetapi juga dapat menjadi katalis bagi transformasi ekonomi.
“Indonesia memiliki semua elemen penting untuk menjadi salah satu pemimpin ekonomi halal global. Yang dibutuhkan adalah strategi yang tepat untuk mengubah perubahan global ini menjadi peluang pertumbuhan jangka panjang,” kata Rafiuddin. (ian)



