TOPIK9, JAKARTA – Pemerintah terus mendorong perusahaan-perusahaan asal China untuk memperluas investasinya di Indonesia, terutama pada sektor-sektor yang memiliki nilai tambah tinggi seperti industri otomotif, ekonomi digital, hingga semikonduktor.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat daya saing industri nasional sekaligus menjaga momentum pertumbuhan investasi.
Ajakan itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat menerima delegasi pelaku usaha China di Jakarta pada 23 Juli 2026 lalu.
Menurut Airlangga, Indonesia terbuka bagi kemitraan global, baik di bidang perdagangan, investasi, jasa, maupun pendidikan.
“Kita terbuka untuk bekerja sama dengan partner global termasuk China, baik itu untuk trade investment maupun di sektor jasa maupun di sektor pendidikan. Dan saya mengundang pebisnis dari China untuk melanjutkan investasi di Indonesia terutama terhadap sektor yang mempunyai nilai tambah tinggi,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, Jumat (24/7/2026).
Ia menilai industri otomotif menjadi salah satu sektor yang menunjukkan perkembangan signifikan. Kehadiran sejumlah produsen kendaraan asal China, seperti BYD dan Chery, yang kini masuk dalam lima besar merek dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia menjadi bukti meningkatnya daya tarik pasar otomotif nasional.
Selain industri kendaraan, pemerintah juga membuka peluang investasi pada sektor ekonomi digital, mencakup industri semikonduktor, pembangunan jaringan serat optik, pengembangan aplikasi digital, hingga pembangunan pusat data (data center). Untuk menarik investasi tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai insentif fiskal, antara lain tax holiday, tax allowance, investment allowance, dan super tax deduction bagi investasi yang memenuhi persyaratan.
Airlangga menambahkan, iklim investasi Indonesia masih sangat kompetitif. Ia mengutip hasil survei Japan External Trade Organization (JETRO) yang menunjukkan sekitar 70 persen perusahaan asing yang berinvestasi di Indonesia berhasil memperoleh keuntungan.
“Laporan dari JETRO menyampaikan bahwa perusahaan asing yang investasi di Indonesia potensi mendapat keuntungan sebesar 70 persen. Jadi lebih banyak untung daripada yang tidak untung,” katanya.
Hubungan ekonomi Indonesia dan China juga terus mengalami penguatan. Kedua negara telah menjalin kerja sama melalui berbagai perjanjian perdagangan, termasuk ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP).
Berdasarkan data pemerintah, nilai perdagangan bilateral Indonesia-China telah mencapai sekitar US$ 154 miliar atau sekitar Rp 2.500 triliun.
Sementara itu, data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi yang berasal dari Hong Kong dan China pada semester I 2026 mencapai sekitar US$10 miliar atau setara Rp163 triliun.
Dalam pertemuan tersebut, Airlangga juga berdialog dengan pelaku usaha China dan Indonesia yang bergerak di berbagai sektor, mulai dari tekstil, alas kaki, furnitur, elektronik, kawasan industri, energi terbarukan, hingga pendidikan.
Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menegaskan pemerintah akan terus memperluas kerja sama strategis dengan China, tidak hanya di sektor perdagangan dan investasi, tetapi juga pada bidang industri, pendidikan, ekonomi digital, dan teknologi.
“Pemerintah berkomitmen untuk terus membuka peluang dan memperluas kerja sama yang saling menguntungkan, tidak hanya di bidang perdagangan dan investasi, tetapi juga pada sektor-sektor strategis seperti industri, pendidikan, ekonomi digital, dan teknologi,” ujar Haryo.



