OpiniTopik

Menanti Sentuhan Tangan Dingin Sudaryono

Pengelolaan anggaran Program MBG harus sepenuhnya berorientasi pada kepentingan masyarakat. Setiap rupiah yang digunakan harus benar-benar mendukung tujuan utama program, yakni menyediakan asupan gizi yang sesuai bagi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta lanjut usia.”

BEBAN kini berada di pundak Sudaryono. Ia dituntut menyelesaikan karut marut di Badan Gizi Nasional (BGN) yang ditinggal pendahulunya. Pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi tanggung jawab badan ini menimbulkan banyak masalah. Berbagai masalah itu tak ubahnya dengan bola panas yang menjadi tanggung jawab mantan Wakil Menteri Pertanian ini.

Sudaryono menjabat Kepala BGN tatkala suara-suara publik masih minor atas pengelolaan badan ini. Semula, publik menyuarakan kekecewaan atas sejumlah masalah yang muncul dalam pelaksanaan program MBG. 

Kasus keracunan anak sekolah akibat mengkonsumsi makanan tak layak kerap diwartakan di berbagai media massa. Kasus yang terekspos tak hanya di satu atau dua sekolah, tetapi di banyak sekolah. Tidak sebatas di satu dua daerah, tetapi terjadi di berbagai daerah. 

Berbagai kasus tersebut memantik komentar di masyarakat. Umumnya mengecam. Tidak sedikit di antara pengeritik menyuarakan agar program yang menggunakan anggaran negara triliunan rupiah ini dihentikan. Mahasiswa dari sejumlah kampus di Indonesia pun turun ke jalan, menyuarakan hal yang sama.

Puncaknya meletup saat kepala BGN bersama dua wakilnya diganti: Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, dan Lodewyk Pusung. Nanik S Deyang yang sebelumnya wakil ketua dipercaya mengisi jabatan yang ditinggalkan Dadan. Agustina Arumsari dan Mayjen (Purn) Trenggono mengisi kursi wakil ketua.

Sebelumnya, pergantian ketiga pimpinan itu terkesan mendadak. Publik menganggap awalnya hanya pergantian biasa—laiknya pergantian di banyak organisasi dan lembaga. Publik hanya menduga, pergantian pucuk pimpinan badan penyelenggara program prioritas Presiden Prabowo Subianto ini sebagai respon atas kritik publik terhadap pengelolaan MBG.

Ternyata, tidak sebatas itu. Tak sampai hitungan 24 jam, media—terutama media online dan media sosial—kemudian menjadi riuh. Keriuhan bukan semata soal pergantian, melainkan langkah Kejaksaan Agung yang memeriksa ketiganya. Pemeriksaan berujung pada penetapan tersangka kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG.

Nanik, Arumsari, dan Trenggono seakan menerima limpahan bola panas. Mereka harus melakukan evaluasi menyeluruh. Karut marut pengelolaan MBG sebelumnya dibedah satu demi satu.

Pembedahan belum rampung sepenuhnya, Nanik memilih mengundurkan diri setelah menjabat kurang dari dua bulan. Pertimbangannya karena kesehatan. Nanik menyatakan akan menjalani pengobatan di luar negeri.

Di sinilah Sudaryono menerima limpahan bola yang belum benar-benar dingin. Dia dipercaya menggantikan Nanik. Sudaryono dipandang memahami betul arah program MBG. Boleh jadi pemahannya terbenam di benaknya sejak program ini masih dalam pikiran penggagasnya. Yang bisa diyakini, ia terlibat dalam pembicaraan membahas konsep MBG sebelum diterapkan dalam pemerintahan Prabowo Subianto.

Keterlibatan itu memungkinkan ia kian memahami pentingnya gizi yang baik bagi anak-anak. Sama memahaminya kondisi anak-anak di negeri ini, masih banyak yang tumbuh dan berkembang dalam keadaan gizi kurang memadai. 

Menyediakan makanan bergizi sejak masa pertumbuhan akan membuat tubuh mereka menjadi sehat dan kecerdasan meningkat. Dengan pemahaman itu, penerapan program ini akan membuat Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sehat dan cerdas di masa depan. Sebuah impian yang ideal, impian yang memandang jauh ke depan. Impian melihat cahaya penerang di kejauhan.

Toh, gagasan ini tak hanya membutuhkan anggaran negara yang tidak sedikit, tetapi juga komitmen yang kuat dari pengelolanya. Sudaryono sadar akan hal itu. Tak heran ketika baru dilantik, ia menegaskan, “Pengelolaan anggaran Program MBG harus sepenuhnya berorientasi pada kepentingan masyarakat. Setiap rupiah yang digunakan harus benar-benar mendukung tujuan utama program, yakni menyediakan asupan gizi yang sesuai bagi anak-anak, ibu hamil, ibu menyusui, serta lanjut usia.”

Dia menyatakan akan membenahi tata kelola badan ini agar semakin transparan, akuntabel, dan berbasis sistem. Sejumlah persoalan yang terjadi sebelumnya menjadi pelajaran penting untuk memperkuat pengawasan serta memastikan seluruh proses berjalan secara terbuka. 

Dia pun menyampaikan komitmennya, “Saya akan bekerja keras untuk memperbaiki yang memang harus kita perbaiki. Yang tidak transparan harus kita buat transparan.” Komitmen itu menyiratkan adanya kesungguhan untuk melakukan pembenahan. 

Dua tahun menjabat Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono diyakini memahami kesediaan bahan pangan di seluruh wilayah di Indonesia. Dia juga memahami kebutuhan pangan dalam program MBG akan mendorong penyerapan hasil produksi pertanian, peternakan, dan nelayan sehingga memberi manfaat bagi perekonomian daerah. Dampak ekonominya luas.

Pemahaman atas arah program MBG untuk masa depan anak-anak di negeri dan dampak perekonomian bagi masyarakat–termasuk peningkatan perekonomian daerah–memungkinkan Sudaryono bisa melakukan pembenahan dengan lebih baik. Bukan sebatas harapan, bukan semoga, tetapi keyakinan. Dengan komitmen yang kuat, pelaksanaan program MBG diyakini akan lebih baik. 

Kini, masyarakat menanti tangan dingin Sudaryono dalam pengelolaan program MBG yang lebih baik, demi peningkatan gizi anak-anak Indonesia, demi masa depan negeri ini. (Burhan)

Back to top button