OpiniTopik

Upaya Mewujudkan Ekosistem Kendaraan Listrik Nasional

Komitmen pemerintah untuk terus mendorong transformasi ekosistem kendaraan berbasis energi baru dan terbarukan patut diapresiasi. Komitmen ini penting, tidak saja untuk menciptakan udara yang bersih. Lebih dari itu. Kendaraan berbasis listrik akan mengurangi ketergantungan penggunaan bahan bakar berbasis fosil. Efeknya akan dirasakan dalam jangka panjang.

Bagaimana pun, bahan bakar berbasis fosil sama sekali tidak ramah lingkungan. Asap buangannya akan menyebar ke udara membuat lingkungan tak sehat.  Udara yang kotor potensial dihirup oleh manusia, juga makhluk hidup lainnya. Kondisi itu akan berpengaruh terhadap kesehatan. 

Efek mengurangi ketergantungan pada energi fosil amat berarti dalam jangka panjang. Bahan bakar yang dikeruk dari dalam perut bumi tak mungkin akan lestari. Volumenya akan terus berkurang sehingga pada masa tertentu menjadi keberadaannya tidak lagi menjajikan.

Benar kata Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi. Prasetyo menyebut pengembangan produksi kendaraan listrik nasional merupakan bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar berbasis fosil. Langkah tersebut tidak hanya akan memperkuat ekosistem otomotif nasional, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap upaya transisi energi.

“Tidak sekadar mengenai kemampuan kita memproduksi mobil atau motor listrik nasional, ini bagian juga dari kita mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi bahan bakar minyak (BBM) berbasis fosil,” ucap Prasetyo. “Saya kira itu juga perlu menjadi perhatian kita bahwa sebuah prestasi itu tidak berdiri sendiri, juga tidak sekadar memberi efek atau impact di dunia otomotif, tetapi juga membawa pengaruh kepada konsumsi bahan bakar kita yang berbasis fosil. Jadi kita bisa mengurangi ketergantungan ke BBM.”

Mensesneg mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama mendukung terwujudnya cita-cita bangsa dalam membangun industri kendaraan listrik nasional. Dia berkata, “Bahwa mungkin masih ada sedikit kekurangan ya, mari itu bersama-sama kita berbaiki.” 

Kekurangan memang sangat mungkin selalu ada. Memulai sesuatu, kecil kemungkinan langsung sempurna. Selalu saja ada kekurangan di sana sini. Untuk itu, kesadaran untuk terus membenahi kekurangan dalam perjalanan waktu menjadi penting. Itulah tantangan yang harus dihadapi.

Ketersediaan energi listrik salah satu tantangan yang mungkin akan dihadapi. Pasalnya, pembangkit listrik berbahan bakar diesel dan penggunaan kendaraan berbasis BBM masih bergantung pada pasokan bahan bakar minyak. Padahal, harga BBM tergolong tinggi. Itu akan berdampak besar terhadap perekonomian.

Di sinilah peran perguruan tinggi untuk ikut mendukung percepatan pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta konversi kendaraan listrik. Dukungan tersebut dilakukan melalui riset, kajian, serta hasil penelitian untuk membantu percepatan pemanfaatan energi terbarukan dan bersih. Percepatan itu, khususnya PLTS yang diarahkan untuk menggantikan pembangkit listrik berbahan bakar diesel yang dinilai masih mahal.

Dukungan kalangan perguruan tinggi menjadi berarti dalam mewujudkan harapan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia dapat memproduksi sedan listrik secara besar-besaran pada 2028 bisa menjadi kenyataan. Di sinilah diapresiasi komitmen pemerintah untuk terus mendorong transformasi ekosistem kendaraan berbasis energi baru dan terbarukan. (burhan)

Back to top button