Jakarta – Pemerintah dan DPR RI menyepakati hasil pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) serta Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027.
Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Wihadi Wijanto dalam Rapat Paripurna DPR RI Ke-23 Masa Persidangan V di Jakarta, Kamis (2/7/2026), mengatakan hasil pembahasan tersebut akan menjadi dasar bagi pemerintah dalam menyusun Rancangan Undang-Undang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta nota keuangannya.
“Arah kebijakan pembangunan nasional menitikberatkan pada percepatan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” kata Wihadi dalam Rapat Paripurna tersebut seperti dikutip dari Antara.
Adapun penyusunan asumsi dasar ekonomi makro mempertimbangkan berbagai tantangan global, mulai dari perkembangan geopolitik, kondisi ekonomi internasional, hingga dinamika ekonomi domestik.
Dalam kesepakatan tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 ditargetkan berada pada kisaran 5,8-6,5 persen. Sementara inflasi diproyeksikan tetap terkendali pada level 1,5-3,5 persen.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diperkirakan bergerak di rentang Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS, dengan tingkat suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun berada di kisaran 6,5-7,3 persen.
Di sektor energi, harga minyak mentah Indonesia (ICP) disepakati berada pada rentang US$70-US$95 per barel. Adapun lifting minyak bumi ditargetkan mencapai 605-620 ribu barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 951-990 ribu barel setara minyak per hari.
Selain asumsi makro, DPR dan pemerintah juga menyepakati postur fiskal RAPBN 2027. Pendapatan negara ditargetkan mencapai 12,01-12,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sedangkan belanja negara dipatok pada kisaran 13,81-14,80 persen PDB.
Defisit APBN 2027 disepakati berada pada rentang 1,8-2,4 persen PDB, masih jauh di bawah batas maksimal 3 persen yang diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara. Rasio utang pemerintah juga diproyeksikan tetap terjaga pada kisaran 40,31-40,64 persen terhadap PDB.
Dalam aspek pembangunan nasional, pemerintah dan DPR menetapkan target tingkat kemiskinan turun menjadi 6,0-6,5 persen dan kemiskinan ekstrem ditekan hingga nol persen pada 2027. Tingkat pengangguran terbuka juga ditargetkan turun ke kisaran 4,3-4,87 persen.
Pemerintah turut membidik peningkatan pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita hingga US$5.800-US$5.840 serta peningkatan kualitas lingkungan hidup dengan target indeks mencapai 76,84.
Tabel Asumsi Ekonomi Makro RAPBN 2027
| Indikator | Target 2027 |
|---|---|
| Pertumbuhan Ekonomi | 5,8% – 6,5% |
| Inflasi | 1,5% – 3,5% |
| Nilai Tukar Rupiah | Rp16.800 – Rp17.500/US$ |
| Suku Bunga SBN 10 Tahun | 6,5% – 7,3% |
| Harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) | US$70 – US$95/barel |
| Lifting Minyak Bumi | 605 – 620 ribu barel/hari |
| Lifting Gas Bumi | 951 – 990 ribu BOEPD |
Tabel Kerangka Fiskal RAPBN 2027
| Komponen | Target |
|---|---|
| Pendapatan Negara | 12,01% – 12,40% PDB |
| Perpajakan | 10,16% – 10,50% PDB |
| PNBP | 1,85% – 1,89% PDB |
| Hibah | 0,002% – 0,003% PDB |
| Belanja Negara | 13,81% – 14,80% PDB |
| Belanja Pemerintah Pusat | 11,26% – 12,01% PDB |
| Transfer ke Daerah | 2,55% – 2,79% PDB |
| Keseimbangan Primer | Surplus 0,45% hingga defisit 0,14% PDB |
| Defisit APBN | 1,8% – 2,4% PDB |
| Pembiayaan Investasi | Minus 0,50% – 0,90% PDB |
| Rasio Utang Pemerintah | 40,31% – 40,64% PDB |
Tabel Target Pembangunan Nasional 2027
| Indikator | Target |
|---|---|
| Tingkat Kemiskinan | 6,0% – 6,5% |
| Kemiskinan Ekstrem | 0% |
| Rasio Gini | 0,362 – 0,367 |
| Tingkat Pengangguran Terbuka | 4,3% – 4,87% |
| Indeks Modal Manusia | 0,575 |
| Indeks Kesejahteraan Petani | 0,8038 |
| Proporsi Lapangan Kerja Formal | 40,81% |
| GNI per Kapita | US$5.800 – US$5.840 |
| Indeks Kualitas Lingkungan Hidup | 76,84 |



